Monday, 26 April 2010

Catatan Perjalanan




Sabtu malam, saya pulang dari rumah kawan di daerah Petukangan.  Alih-alih lewat Unilever, saya malah mengambil jalur Ulujami karena pada saat belok ada mobil yang menghalangi. Di jalan Ulujami Raya, beberapa puluh meter sebelum Pondok Pesantren Darun Najah, saya kaget karena pada saat menyalip mobil ternyata ada pot besar di tengah jalan. Tiga buah pot bunga besar! Ternyata ada pengajian yang diadakan di pinggir jalan. Para peserta pengajian kebanyakan mengenakan baju putih-putih dan bersurban. Saya kemudian melanjutkan perjalanan menuju Pondok Aren. Di beberapa titik dalam perjalanan, saya berpapasan dengan rombongan sepeda motor berjubah putih dan surban. Sepertinya mereka akan menuju pengajian yang saya lewati. Ada kesamaan para rombongan yang saya lihat : mayoritas tidak menggunakan helm, bergerombol dengan sebuah pentungan polisi di depan dan pembawa panji-panji yang besar. Rombongan seperti ini sering saya lihat di daerah Pancoran dulu pada saat saya masih tinggal di Pengadegan. Masjid di sebelah gedung Sucofindo sering dijadikan lokasi pengajian yang diisi habib-habib.
Saya bertanya pada diri saya sendiri, siapa yang member izin pada mereka untuk meletakan pot besar di tengah perjalanan orang? Siapa yang memberikan keleluasan khusus bagi para rombongan untuk membawa-bawa perangkat yang berbahaya seperti tongkat di jalan atau tidak menggunakan helm?
Saya harus katakan bahwa salah pemahaman membuat apa yang benar membuat seseorang terlihat bodoh, apalagi dibarengi dengan keras kepala. Yang ada adalah dungu. Saya bertanya : apakah menjadi peserta pengajian yang mengajarkan ketuhanan membuat kita bebas melanggar hukum manusia? Apakah jamaah para habib, mereka yang menyatakan keturunan Rasulullah, menjadikan mereka sebagai pihak yang diberi kekhususan sehingga bebas melakukan apa saja. Apabila tidak, maka apakah mereka faham dengan norma dimana mereka berada. Hal kecil ini selalu luput diajarkan oleh para guru sehingga manusia Indonesia lebih terkenal dengan tidak teraturnya. Tidak heran apabila saya percaya dengan apa yang disampaikan dosen saya tentang hasil penelitian yang menyimpulkan bahwa New York yang menjadi kota paling nyaman karena kedisiplinannya dan Jakarta ada diperingkat bawah. Saya juga masih ingat tulisan nyinyir Ayu Utami tentang vandalisme gaya Indonesia atau komentar satir tentang rasa memiliki orang Indonesia terhadap fasilitas umum sehingga sarana umum juga diambil untuk dimiliki.

Saya pernah mendengar apabila menyingkirkan duri di jalanan adalah salah satu ibadah kecil. Perbuatan yang memperlancar perjalanan orang lain bernilai ibadah di mata Allah. Pada konteks perbuatan, perbuatan meletakan rintangan di jalanan termasuk ibadah? Saya menyayangkan otak yang digunakan dengan terbatas dengan berpikir bahwa pot besar di tengah jalan akan membuat orang lain akan menyadari adanya acara umum di pinggir jalan. Saya yakin masih ada cara lain untuk memberikan peringatan bahwa : di sini sedang ada pengajian!
Jumatan lalu, saya mendengar khotbah jumat di masjid An Nashr Bintaro yang memaparkan beberapa hal dan salah satunya adalah poin bahwa tidak ada keistimewaan karena nasab. Takwa adalah penentu derajat manusia di mata Allah. Semoga mereka yang merasa istimewa karena nasab menjadi sadar. Semoga mereka yang tidak faham dengan makna keteraturan dan pengaturan menjadi bangun. Semoga Jakarta menjadi tempat yang layak untuk dihuni. Semoga. 

No comments:

Post a Comment

 
Copyright 2009 Catatan Enigma. Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemescreator