Tuesday, 22 June 2010

Sudah Reformasi

Kemarin, saya menelepon kawan saya yang ada di kampus untuk menanyakan masalah pengumuman kelulusan dan pembagian kelas. Hari itu semestinya hari pertama kami kuliah dalam semester baru berdasarkan jadwal kuliah angkatan kami. Sayangnya hingga jam 10 pagi, belum ada pengumuman apa-apa. Pun demikian beberapa hari sebelumnya dan alasannya adalah pengumuman belum ditandatangani pejabat. Katanya pejabat tersebut sibuk. Kawan saya pun mengatakan pada saat saya berkata “ bagaimana sih kerja dari secretariat kampus ? “. Dia menjawab kalau kita tenang saja, kan mereka sudah mengalami reformasi birokrasi. Saya bantah dengan mengatakan reformasi bagaimana kalau masalah mengumumkan kelas seperti ini saja lama. Abaikan dulu masalah dosen yang belum diberitahu secretariat untuk mengajar sehingga si dosen terheran-heran saat mahasiswanya bertanya kapan bisa mengajar. Mungkin saja, surat permintaan mengajarnya terselip atau digondol tikus.

Kalau kawan saya mengatakan bahwa kampus sudah mengalami reformasi maka saya ingin bertanya apakan reformasi birokrasi ini sama dengan kesan yang ada di masyarakat bahwa reformasi birokrasi sama dengan remunerasi. Padahal remunerasi adalah konsekuensi dari kontrak kinerja yang harus lebih baik. Sri Mulyani pernah mengatakan kalau remunerasi dicabut maka dia tidak bisa menuntut kinerja yang lebih baik. Katakanlah para pegawai telah diberi budi baik berupa kenaikan tunjangan dan sebagainya maka pegawai tersebut bisa ditanyakan balas budinya. Kinerja mestinya berkaitan dengan user dari pekerjaan instansi tersebut. Siapa user kampus STAN : instansi pengguna lulusan dan para mahasiswa. Instansi meminta sejumlah lulusan dengan kualifikasi tertentu maka STAN mesti memenuhi standar permintaan tersebut. Mahasiswa meminta layanan penyediaan pendidikan yang baik dan berkualitas maka STAN harus memenuhi. Dosen yang berkualitas, system yang padu dan berjalan benar dan jelas. Saya yakin, hingga saat ini kampus masih terus berbenah dan terlihat pada perbaikan fasilitas sehingga menjamin kenyamanan proses edukasi. Sayangnya, masalah seperti dosen, jadwal dan lain-lain masih tidak berjalan baik. Ya, contohnya pengumuman ini dan itu yang lama bahkan cenderung diumumkan pada hari pertama kuliah. saya menginginkan alasan yang lebih berkualitas selain kata sibuk apabila ada keterlambatan pelayanan agar kata sudah mengalami reformasi mengalami pemaknaan yang lebih baik.

Pretty Woman


Ini adalah film lama yang terkenal. Terkenal dengan lagu “ it must have been love “. Saya mungkin terlambat namun tidak lebih buruk daripada tidak pernah menonton film terkenal ini sama sekali. Bukan hanya merasakan romantismenya namun saya selalu penasaran dengan sebuah film yang terkenal. Saya merasa lengkap saja.

Ada satu bagian dari cerita ini yang mengesankan yaitu konflik antara Edward dengan Morse. Saya tidak ingin ceritakan detail konfliknya namun yang ingin saya tekankan adalah penyelesaiannya. Konflik yang awalnya hendak diselesaikan dengan win lose akhirnya dapat diselesaikan win win. Win lose memang kadang tidak menyenangkan karena biasanya bersifat emosional. Ada dua kutub yang saling berlawanan sehingga rasa senang bertubrukan dengan rasa kecewa. Tapi Edward bisa mengarahkan konflik win lose menjadi win win sehingga pihak lawan menjadi semakin terkesan. Saya pribadi lebih menyukai win win solution karena lebih bijaksana. Saat ada solusi yang baik bagi semuanya maka pemilihan solusi satu menang satu kalah adalah tanda pribadi yang gemar berkonflik.

Film kadang memberikan banyak pelajaran baik nilai yang bagus maupun nilai yang busuk. Saya belajar tentang negosiasi di sini. Saya teringat pada kuliah ini karena saya baru dapat kuliah ini semester delapan yang sudah lalu. Well, saya tidak akan bicara panjang lebar tentang ketidaksukaan saya dengan dosennya tapi hanya sedikir merenung tentang dekadensi-dekadensi kemampuan saya untuk bersaing. Saya sadar dengan ketidakkonsentrasian saya pada kuliah dan banyak ter-distract pada rona rona yang remeh temeh. Lalu bagaimana lagi saya membangun kepercayaan pada kemampuan diri sendiri. Saya mestinya belajar pada Vivian yang akhirnya mau percaya untuk mengubah diri menjadi lebih baik. Vivian mau untuk menyelesaikan SMA nya. Atau pada Edward yang berani untuk mengatasi phobia ketinggiannya.

Harusnya saya belajar untuk focus dan focus. Saya lupakan saja cerita kejayaan saya yang mampu bertahan di tengah badai karena saya mudah goyah dengan agin sepoi-sepoi sekarang. Ayolah!

Ke Dokter


Sudah hampir tiga minggu, kuping kanan saya terasa mendengung. Sensasinya seperti sedang naik mobil dalam jangka waktu lama. Katanya dengung karena ada perbedaan tekanan udara. Saya sudah berencana periksa ke dokter umum ASKES pada awal bulan ini. Sayangnya, dugaan bahwa ini akan sembuh dengan sendirinya membuat saya menunggu sampai tiga minggu. Saya sih menduga kalau ada kapas cotton bud tertinggal karena pada saat saya membersihkan kuping kanan dengan cotton bud, terasa ada serpihan kapas bergerisik.

Kondisi kuping kanan makin lama makin tidak nyaman karena setiap kali menunduk, kuping akan terasa tertutup sehingga saya harus menekan nekan cuping agar terdengar lagi. Akhirnya saya pergi ke klinik Hasanah, klinik ASKES saya. Sayangnya klinik tersebut sekarang sudah tidak beroperasi lagi di Sadang sehingga saya harus ke kantor ASKES dulu untuk memindahkan klinik berobat ASKES nya ke Klinik Asri di seberang Griya Asri. Dokter umum di sana merujuk saya ke dokter THT di RSUD Bayu Asih karena harus ditangani oleh dokter dengan peralatan yang memadai. Wow, rasanya kayak sesuatu yang serius. Saya sebenarnya minta ke RS lain namun rujukan ASKES di Purwakarta hanya ke RSUD Bayu Asih. Bukannya masalah harga namun kredibilitas pelayanan RSUD Bayu Asih sangat menghawatirkan. Saya membuka status di facebook dengan tag Bayu Asih dan teman-teman saya yang berasal dari Purwakarta memberikan komentar negative. Bahkan ada yang memelesetkannya menjadi Bayu Antep. Pada akhirnya, saya akhirnya melanjutkan pengobatan ke sana. Catatan saya antara lain pendaftaran yang tidak terstruktur, tanpa informasi pendaftaran yang memadai, masih ada system – saya tetangga pak anu, ruang tunggu minimum dengan waktu tunggu hampir satu jam dan ketidakjelasan dokter spesialisnya sedang apa. Satu jam berlalu, akhirnya saya masuk ke ruang praktik. Kata dia, ada gumpalan kapas tertinggal dan infeksi. Akhirnya kuping saya disedot dan kapas ditarik dengan kawan lengkung. Sebuah gumpalan kapas yang besar apabila dibandingkan dengan kuman atau bakteri. J Rasanya plong sekali setelah kapas itu hilang. Dokter menuliskan resep cakar ayam berupa obat tetes dan obat minum.

Salah satu obat yang diresepkan adalah CTM untuk alergi. Efek samping obat itu adalah rasa ngantuk. Akhirnya dua hari setelah berobat, pagi-pagi saya ngantuk, siang-siang ngantuk dan malam hari apalagi. Untungnya masih dalam pekan liburan (tambahan). Untungnya lagi, semua jasa dokter dan obat ditanggung ASKES. Saya merasakan manfaat asuransi kesehatan. Saya sebenarnya ikut asuransi Prudential juga namun untuk perobatan yang rawat inap/operasi minor/major/sakit kritis hingga kecelakaan. Ada juga Pru Medical Card yang bisa kita gunakan seperti ASKES tapi sayangnya premi yang harus dibayar mahal. Buat teman-teman, asuransi bermanfaat lho. Tanya aja sama yang sudah memperoleh manfaatnya.

Arti Kata



Ada dua kutub yang berlawanan saat ditanyakan arti sebuah kata. Kutub pertama mengatakan kata hanya sarana dalam menyampaikan sebuah maksud. Mata saya melihat pemandangan dengan komposisi yang pas dan enak dipandang maka otak saya akan menggunakan sarana “ indah “ sebagai wadah nya. Apakah Shakespeare termasuk ke dalam kutub ini karena mengatakan “ apalah arti sebuah nama ” ? Pada sisi yang lain, ada yang mengatakan hal yang sebaliknya. KH Mustofa Bisri mengatakan bahwa kata memiliki arti yang sangat mendalam terutama dalam kehidupan. Syafii Maarif bahkan mengatakan bahwa peradaban berawal dari titik dan koma. Bukan lagi kata tapi titik dan koma. Kedua tokoh ini memiliki perhatian pada kata dan tata bahasa karena makna yang dikandungnya.

Kapal pembawa bantuan untuk rakyat Gaza ditembaki tentara Israel. Ada banyak korban jiwa yang jatuh dan mereka adalah aktivis kemanusiaan. Kita sepakat bahwa Israel itu biadab. Namun mengapa tidak ada tindakan berarti terhadap Israel? Semua menyatakan mengutuk dan menganggap ini adalah tragedy kemanusiaan. Lalu apa ? seorang penulis berkata dalam sebuah tulisan di harian Kompas bahwa pemimpin dunia sibuk mengolah kata yang memuaskan masyarakat namun masih aman dalam menjalin hubungan dengan Israel. Israel adalah negara yang penting karena negara itu adalah mitra emas Amerika Serikat. Saya memang selama ini heran dengan apa yang diucapkan pemipin dunia. Ini bukan kali pertama Israel melakukan kekejian. Mereka cuma main-main kata karena kata-kata menjadi tidak berarti. Nurani saya dan mereka pasti mengatakan hal yang sama bahwa itu keji, kejam dan melanggar hak asasi manusia. Namun kepentingan mereka menutupi hati mereka sendiri untuk memaknai dengan tepat kata-kata mereka. Kutuk adalah kebencian yang amat sangat sehingga tidak ada ruang untuk bersedia melakukan hubungan yang baik lain lagi. Nyatanya kutukan mereka hanya sekedar kata-kata atas kejadian itu namun hubungan lain tetap berlanjut. Lalu apa makna sebuah tragedy ?

Semoga, kata-kata kita tidak hanya menjadi kata yang tidak berarti dan menjadikan kita munafik.

Adu Domba di Garut

Salah satu kesenian yang terkenal di Garut adalah seni ketangkasan adu domba. Domba garut sohor dengan fisik yang tinggi seperti kambing, berbulu tebal dan tanduk yang besar untuk domba jantannya. Domba ini endemik karena ideal diternakan di daerah Garut yang dingin. Dengan fisik yang tangguh, saling adu domba jantan dengan saling menanduk menjadi kesenian rakyat Garut. Saya sendiri kurang tahu, sejarah awal budaya seni adu domba.

Monday, 7 June 2010

Soal Dana Aspirasi



Parlemen saat ini amat gemar membuat kehebohan. Keterbukaan informasi dan maraknya tayangan siaran langsung rapat para anggota dewan membangkitkan gairah popularitas karena mereka tidak menjadi selebritas. Saat ini mereka menyuarakan ide brilliant tentang dana aspirasi. Argument mereka adalah pertanggungjawaban kepada pemilih, memenuhi proposal permintaan dana yang masuk ke para anggota dewan, hingga menjembatani kekurangan dana pembangunan daerah yang miskin fiskal. Pada saat yang sama, banyak resistensi yang muncul baik dari pemerintah maupun organisasi masyarakat. Pemerintah terang-terangan menolak karena banyak melabrak tatanan yang ada. Tapi apa daya, beberapa anggota dewan yang terhormat memang kupingnya terbuat dari logam sehingga mereka memang bebal. Mereka memaksa ide ini menjadi isu prioritas bahkan mengancam akan menyandera APBN 2011.

ATM oh ATM




Ini mungkin menjadi kali yang berkali-kali saya mengganti kartu ATM. Yang saya ingat, saya kehilangan dompet dan segala isinya kurang lebih tiga kali : di BIC, di Pengadegan Selatan dan di Bis Magelang-Jakarta. Repotnya minta ampun karena saya harus mengganti banyak kartu dan itu diurus tidak disatu tempat. KTP diurus di Purwakarta, name tag kantor, kartu ATM ini dan itu sampai kartu membership Centro :-D. Well, all I have to say adalah jangan sampe deh. Riweuh alias repot.
Apakah saya belajar untuk lebih hati-hati? Tentu saja, dan itu pasti. Saya yakin saya tidak mau mengurus penggantian semua kartu di dompet lagi. Saya coba menggunakan dua dompet dan itu tidak berjalan baik karena repot. Saya mencoba menyimpan sebagian kartu ATM (it means ATM nya lebih dari satu :-D) tapi kadang-kadang saya lupa ATM yang ada saldonya di laci sehingga akhirnya saya bawa lagi semua kartu ATM. At least, meskipun upayanya tidak berjalan lancer, saya berupaya  belajar.
 
Copyright 2009 Catatan Enigma. Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemescreator